Sabtu, 11 Mei 2013

epidemiologi Kesehatan Reproduksi


EPIDEMIOLOGI KESEHATAN REPRODUKSI
Oleh:
Ni’mal Baroya, MPH.
Dosen Bagian Epidemilogi dan Biostatistika Kependudukan

1.   Pengertian dan Ruang Lingkup
Pemahaman tentang epidemiologi kesehatan reproduksi perlu dilandasi pemahaman tentang epidemiologi yang utuh. Secara singkat, epidemiologi didefinisikan sebagai studi tentang pola penyakit, kesehatan dan perilaku manusia. Seorang epidemiolog, akan mampu menjawab pertanyaan penelitian dengan cara mengklasifikasi individu ke dalam satu atau lebih kelompok yang berbeda kemudian menilai perbedaan diantara kelompok tersebut. Dengan demikian, Epidemiologi kesehatan reproduksi merupakan aplikasi dari studi epidemiologi dalam mengkaji risiko perilaku, lingkungan dan perawatan kesehatan terhadap sistem reproduksi baik pada laki-laki maupun perempuan serta  risiko terhadap kesehatan anak yang dilahirkannya. Jadi, epidemiologi kesehatan reproduksi lebih banyak menjangkau ranah penelitian.
Kesehatan reproduksi manusia dimulai dari pertumbuhan dan perkembangan seksual yang terwujud dalam masa pubertas, dan akan berlangsung terus sepanjang hidupnya pada laki-laki dan pada perempuan akan berakhir pada masa menopause. Kesehatan reproduksi dipengaruhi oleh fertilitas dan pengambilan keputusan tentang aktivitas seksual, kehamilan dan pemakaian kontrasepsi. Secara mendetail, Kiely (1990) menjelaskan lingkup kajian epidemiologi kesehatan reproduksi sebagai berikut:
a.    Perkembangan anak dan masa pubertas, peneliti epidemiologi reproduksi mengeksplorasi faktor risiko terjadinya kelahiran di usia dini, kehamilan yang tidak diinginkan baik konsekuensi pada aspek kesehatan maupun sosial. Salah satu tantangan besar para epidemiolog reproduksi di negara maju adalah mengidentifikasi faktor risiko yang bisa dicegah terhadap terjadinya melahirkan di usia dini, sejak angka fertilitas di kalangan remaja di negara-negara tersebut meningkat. Investigasi pada permasalahan ini termasuk menggali alasan pada akses dan pemanfaatan metode perencanaan kelahiran yang berbeda serta kesehatan bayi yang dilahirkan ibu yang masih remaja.
b.    Akses dan pemanfaatan perawatan kehamilan. Secara konsisten, hasil penelitian telah menemukan bahwa bayi yang dilahirkan ibu yang mendapat perawatan kehamilan sejak dini (usia trimester pertama) dan yang mendapatkan perawatan kehamilan yang adekuat (diukur berdasarkan jumlah kunjungan ke perawatan kehamilan) mempunyai risiko lebih rendah untuk terjadi berat bayi lahir rendah  dan kematian perinatal. Meskipun belum jelas bagaimana keuntungan ini berhubungan dengan faktor individu perempuan yang mendapat perawatan kehamilan lebih dini dan adekuat dan bagaimana hubungannya dengan macam dan kualitas pelayanan yang diterima. Salah satu ranah penelitian terbaru adalah mengkaji komponen perawatan kehamilan  untuk menguji perbedaan insiden kesakitan dan hasil kehamilan (bayi yang dilahirkan).
c.    Safety dan efficacy treatment komplikasi ibu dan bayi. Dengan menggunakan randomized clinical trial, peneliti menguji safety dan efficacy treatment obat betamimetic untuk menghentikan kelahiran premature. Dengan studi case-control, peneliti  mengkaji risiko lahir cacat pada obat yang digunakan selama perawatan kehamilan, seperti Bendectin digunakan untuk mengobati mual dan muntah. Dengan menggunakan epidemiologi deskriptif, peneliti melacak peningkatan prevalensi operasi Caesar. Dan dengan menggunakan studi cohort, peneliti mengukur dampak regionalisasi perawatan kehamilan terhadap peningkatan penggunaan unit perawatan intensif pada bayi baru lahir (neonatal).
d.    Risiko lingkungan dan perilaku terhadap reproduksi. Hal ini termasuk bahan kimia di tempat kerja yang mungkin mempengaruhi produksi sperma dan meningkatkan risiko aborsi spontan, merokok dan alcohol mempengaruhi hasil kehamilan dan bahan kimia yang terdapat di lingkungan juga mempengaruhi hasil kehamilan.
e.    Kajian tentang ancaman terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup perempuan dan anak dihubungkan dengan metode perencanaan kelahiran dan kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa  pertanyaan peneliti yang dikaji adalah sebagai berikut; apakah pemakaian IUD meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit radang panggul?, apakah aborsi mempengaruhi bayi yang dilahirkan berikutnya, dan apakah risiko kanker rahim meningkat atau menurun oleh penggunaan kontrasepsi oral?.
Dengan demikian, menurut Wingo et al. (1991), seorang epidemiolog reproduksi dapat melakukan kajian pada seluruh aspek kesehatan reproduksi, termasuk perkembangan seksual, aktivitas seksual, kontrasepsi, metode kontrasepsi, fertilitas, kehamilan yang tidak diinginkan, abortus yang disengaja, kesakitan dan kematian ibu dan bayi, masalah saluran reproduksi baik pada laki-laki maupun perempuan, dan pelayanan kesehatan ibu dan bayi serta keluarga berencana.

2.   Sekilas Sejarah Epidemiologi Reproduksi
Membincangkan sejarah epidemiologi kesehatan reproduksi, kita harus menilik kembali abad ke-19 di Wina ketika Ignaz Semmelweis menemukan kematian pada masa nifas (karena demam) lebih tinggi  pada perempuan yang pada saat melahirkan di rumah sakit, bayinya ditolong oleh mahasiswa kedokteran jika dibandingkan dengan ibu yang saat melahirkannya ditolong oleh bidan. Dia menghubungkan perbedaan ini pada kebiasaan bidan mencuci tangan mereka pada setiap antara menolong persalinan (McMahon dan Pugh dalam Wingo et al., 1991).
Epidemiologi reproduksi modern berkembang selama abad ke-20. Registrasi kelahiran dan kematian di USA sudah tertata pada awal abad ini, dan di Eropa pada abad 18 dan 19, melakukan identifikasi faktor risiko kematian ibu dan bayi. Kesehatan masyarakat melakukan pengukuran kemudian mendesain program untuk mengurangi faktor-faktornya. Seperti, penyediaan pos susu untuk ibu yang mempunyai bayi. Hal ini dilakukan ketika ditemukan ada hubungan antara kematian bayi dengan sanitasi dan gizi oleh Holland et al., 1984 dalam Wingo et al., 1991. Dengan pelaksanaan program intervensi tersebut, berdasarkan hasil kajian epidemiologi reproduksi, terjadi penurunan 95% kematian ibu di USA dari tahun 1915-1965. Dan di Swedia, angka kematian bayi juga turun dari 200 kematian per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1970 menjadi 20 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1950 (Wingo et al., 1991).

3.   Pengaruh Demografi dan Epidemiologi  
       Epidemiologi reproduksi juga berasal dari ilmu demografi, sebuah disiplin ilmu yang berkembang selama abad ke 19 dari studi registrasi jamaah gereja di Inggris. Sejarah perubahan kependudukan (transisi demografi) dan perubahan pola kesehatan dan penyakit (transisi epidemiologi) secara langsung mempengaruhi mortalitas, fertilitas, angka kelahiran, dan ukuran kesehatan reproduksi lainnya. Perubahan ini juga mempengaruhi kesehatan dan status perempuan, anak-anak dan keluarga
Teori transisi demografi menggambarkan tiga tahap pertumbuhan penduduk yang mengiringi perkembangan ekonomi Negara-negara Barat, yaitu:
a.    Potensi pertumbuhan tinggi. Pada tahap ini, tingkat kelahiran dan kematian tinggi pada level yang sama, sehingga pertumbuhan penduduk rendah. Jika mortalitas menurun pada tahap ini tanpa disertai penurunan fertilitas, jumlah penduduk akan meningkat secara cepat.
b.    Transisi. Pada tahap ini mulai dengan penurunan mortalitas sementara fertilitas tetap tinggi kemudian fertilitas bergeser turun sampai keduanya sama-sama pada tingkat yang rendah. Pada bagian awal tahap ini, pertumbuhan penduduk berpotensi tinggi, namun kemudian menurun.
c.    Mulai menurun. Pada akhir tahap ini, tingkat kelahiran dan kematian rendah dan relatif stabil. Fertilitas menurun pada level yang lebih rendah daripada tingkat kematian sehingga menghasilkan penurunan penduduk.
Meskipun transisi demografi memberi perspektif pada sejarah perubahan penduduk di negara Barat, teori ini tidak  secara lengkap menggambarkan dan menjelaskan pola perubahan penduduk di masyarakat non Barat atau di negara-negara Berkembang dimana faktor eksternal telah mempengaruhi penurunan tingkat mortalitas tanpa bersamaan dengan penurunan angka kelahiran.
Teori transisi epidemiologi menggambarkan perubahan pola kesehatan dan penyakit dengan fokus pada tingkat mortalitas dan fertilitas serta interaksi antara faktor sosial, ekonomi, demografi dan variabel kesehatan. Tiga tahap transisi epidemiologi paralel dan mempengaruhi tuga tahap transisi demografi, yaitu:
a.    Masa wabah dan kelaparan. Selama tahap ini, pravalensi penyakit endemik tinggi, status gizi buruk, dan infeksi penyakit serta kelaparan merajalela. Tingkat kelahiran dan kematian tinggi, serta pertumbuhan penduduk rendah. Struktur keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga yang banyak, generasi dalam rumah tangga berlipat ganda dan gaya hidup dominan terpusat pada keluarga. Fungsi perempuan sebagai ibu tanpa hak atau tanggung jawab di luar rumah.
b.    Masa penurunan pandemi. Pada tahap ini, penyakit dan kelaparan menurun, angka mortalitas juga menurun, angka kelahiran naik, dan penduduk tumbuh. Keluarga besar masih banyak terutama di pedesaan tetapi keluarga inti menjadi lebih biasa ditemui di perkotaan. Perempuan mulai terlibat dalam aktivitas di luar rumah.
c.    Masa penyakit degeneratif dan penyakit akibat ulah manusia. Selama periode ini, kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan membaik. Penyakit infeksi dan kondisi gizi buruk menurun. Angka kelahiran turun dan jumlah penduduk stabil. Penyakit kronik seperti penyakit jantung, kanker, stroke, dan penyakit yang disebabkan oleh paparan pekerjaan, menjadi penyebab utama kematian. Keluarga kecil sudah menjadi norma. Emansipasi perempuan meningkat dari peran tradisional menjadi lebih berpendidikan dan berorientasi karier.
4.   Penggunaan Methode Epidemiologi dalam Kesehatan Reproduksi  
Metode epidemiologi digunakan untuk mendefinisikan masalah kesehatan reproduksi, menjelaskan penyebab masalah ini, menguji intervensi dan mengevaluasi program. Definisi masalah termasuk gambaran populasi yang terpengaruh, etiologi masalah kesehatan, identifikasi faktor risiko yang bisa diubah/dikendalikan dan melakukan surveilans untuk mendeteksi tren masalah. Pengurangan faktor risiko melalui intervensi tergantung pada penilaian yang akurat pada perbandingan safety dan efficacy intervensi dan treatmen yang diusulkan. Epidmeiologi analitik digunakan untuk menguji intervensi. Metode epidemiologi dan hasilnya digunakan untuk menilai apakah program berdasarkan intervensi dan treatmen yang tepat dan apakah program dan treatmen digunakan secara tepat. Cost-benefit analysis diaplikasikan untuk menentukan apakah intervensi menggunakan sumber daya terbaik yang tersedia.

Contoh 1
Proyek pendekatan risiko di Shunyi pada kesehatan perinatal (Yan et al., 1989) yang dilakukan di Kota Shunyi, Republik Rakyat Cina, menunjukkan bahwa metode epidemiologi diaplikasikan untuk definisi masalah, intervensi dan testing serta evaluasi program. Proyek pendekatan risiko untuk memperbaiki pelayanan kesehatan perinatal mulai pada tahun 1983 dan berlangsung selama 5 tahun.

Definisi Masalah
Peneliti mengumpulkan data 1914 perempuan hamil dan 1928 bayinya serta 50 kasus kematian perinatal. Diantara masalah lainnya, peneliti menemukan bahwa 151 per 1000 perempuan mengalami hypertensi selama kehamilannya dan 1 per 1000 mengalami eklampsia. Angka kematian perinatal pada bayi yang lahir dari perempuan tersebut meningkat. Seperti, kematian perinatal pada bayi yang lahir dari perempuan yang mengalami hypertensi ringan selama kehamilannya adalah 4,6 per 1000 kelahiran atau 2 kali lebih besar dibandingkaan dengan kehamilan tanpa komplikasi karena gangguan ini. Angka kematian bayi yang lahir dari perempuan yang mengalami hipertensi lebih buruk lagi yaitu 10,8 per 1000 kelahiran.

Intervensi dan Testing
Untuk menurunkan insiden pre eklampsia, eklampsia dan kematian perinatal karena gangguan hypertensi selama kehamilan, peneliti memulai sejumlah intervensi pada tahun 1985. Mereka mendidik pasien tentang pentingnya istirahat, gizi yang tepat dan tanda-tanda serta gejala eklampsia. Pada perempuan yang berisiko tinggi dibutuhkan setiap minggu atau dua minggu sekali melakukan pengukuran tekanan darah. Peneliti juga memberikan pelatihan pada petugas pelayanan kesehatan dan mengajari dokter desa untuk mengukur tekanan darah dan mengecek peralatannya. Praktisi di rumah sakit kota diajari bagaimana mendiagnosa dan mengobati gangguan hypertensi, membuat rujukan yang tepat ke rumah sakit kabupaten dan mengikuti protokol yang telah disusun untuk monitoring pada semua perempuan yang hamil.

Evaluasi Program
Peneliti melakukan surveilans untuk menilai dampak intervensi. Dari tahun 1984-1986, insiden pre eklampsia menurun dari 1,8 menjadi 0,4% dan kematian perinatal pada perempuan yang mengalami komplikasi gangguan ini menurun dari 10,8 per 1000 kelahiran menajdi 0. Tim peneliti menyimpulkan bahwa, intervensi program sudah sukses besar dalam menurunkan kesakita ibu dan bayi serta kematian karena gangguan hipertensi saat kehamilan.

Pustaka
1.   Wingo, P. A., Higgins, J. E., Rubin, G. L., Zahniser, S. C., 1991. An Epidemiologic Approach to Reproductive Health. Atlanta Georgia USA, North Carolina USA, Geneva Switzerland: CDC-FHI-WHO.
2.   Kyeli, M. 1991. Reproductive and Perinatal Epidemiology. Boston: CRC Press
3.   Yan  RY, McCarthy BJ, Ye HF, et al. 1989. The risk approach in perinatal Health: Shunyi County, People’s republic of China. Atlanta, Georgia: Center for Disease Control (World Health Organization Collaborating Center in Perinatal Care and Health Service Research in maternal and Child Health).




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar